nnalhamdalillah nakhmaduhu wanasytainu wanastaghfiruhu, Wanaudzubillahi min sururi anfushina Wa min syaiatii a'malina.. May yahdillahu fala mudhillalahu, Wa maa yudhlil falaa hadiyallah.. Asyhadualla illaha illalahu Wahdahulasyarikalah Wa asyhadu annamuhammadan Abduhu warusuluuh.. la nabiya ba'da. Ikhwatifillah, Kiri kanan di mana kita tinggal adalah para tetangga kita.. mereka tinggal berdampiingan dengan kita entah itu seakidah atau tidak, baik atau berperangai buruk. Namun kita dituntut untuk selalu berbuat baik pada mereka. Banyak sekali contohperbuatan-perbuatan yang baik dianjurkan seperti; Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Demi Alloh, tidak beriman; demi Alloh, tidak beriman; demi Alloh, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasululloh? Nabi menjawab: ‘Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya’. (Muttafaq’alaih). Jadi sampai 3x Kanjeng Nabi menyatakan kalimat Wallahi! Tidak beriman. Penekanan ini sangatlah urgent tuk mengetahui esensi makna sabda beliau itu. Dan kita seyogyakanya jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka. Jikalau ada kelebihan rejeki hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. YANG DINAMAKAN TETANGGA Sebenarnya ternyata dinamakan tetangga bukan hanya mencakup seorang muslim dan seorang kafir, tetapi juga seorang ahli ibadah dan seorang fasik, teman dan musuh, orang asing dan orang senegeri, orang yang bisa memberi manfaat dan orang yang memberi madharat, orang dekat dan orang jauh serta yang paling dekat dengan rumahnya dan paling jauh. Tetanga mempunyai beberapa tingkatan, sebagiannya lebih tinggi daripada yang lainnya. Yang paling tinggi adalah yang terkumpul padanya seluruh sifat yang pertama (seorang muslim, ahli ibadah, teman dan seterusnya, -pent), kemudian yang terbanyak dan seterusnya sampai yang hanya mempunyai satu sifat di atas. Dan kebalikannya (yang paling rendah, -pent) adalah yang terkumpul padanya sifat-sifat yang kedua (kafir, fasik, musuh, -pent). Maka masing-masing diberi haknya menurut keadaannya. Adapun tentang batasan tetangga :Al-Uza'i berpendapat : 'Empat puluh rumah dari setiap arah'. Ibnu Syihab juga berpendapat demikian. Dan salah satu empati yang diajarkan Rasullulah yang bisa kita ambil teladannya adalah masalh berbagi, hingga kemasalah berbagi makanan, seperti hadist sbb; Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: “Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu”. (HR. Muslim). Kita jua hendaknya turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hendaknya kita tidak juga selalu mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka. Namun kalaupun kita dikondisikan harus bersabar manakala kita pusing dan sdikit/banyak terganggu (apalagi, jikalau sedang kondisi sedang sakit tuk istirahat malam hari) misalnya tiap malam dengan kebrisikan sekelompok tetangga yang gemar main domino yang selalu selesai bermain dengan kartu ‘batu’ yang keras hingga pukul 1-2 dini hari. Hingga sudah menjadi pendengaran biasa tiap malam kecuali cuaca hujan, kita tampaknya juga diberikan garansi dijanjikan oleh Allah SWT sebagai yang dicintai-Nya. Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam kembali bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Alloh…. “Disebutkan salah satu di antaranya adalah Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani). Subhannallah, wallahualam bissawab. Wasiat Islam Ikhwatifillah, rahimakumullah ternyata permasalahan "tetangga" bukanlah remeh, bahkan sangat diperhitungkan di dalam agama Islam. Terlebih lagi, Islam mewasiatkan untuk selalu menjaga dan memuliakan tetangga. Simaklah firman Allah : "Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga dekat maupun tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang mengadakan perjalanan) dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (An Nisaa': 36) Berikutnya Allah Ta'ala berfirman. "Waljaari dzii al-qurba = artinya : Yang dekat" "Waljaari al-junubi = artinya : Yang asing" Di dalam ayat yang mulia ini, terdapat perintah dari Allah untuk berbuat baik kepada tetangga dan Allah membenci sifat sombong dan tidak mau peduli dengan keadaan tetangganya. Demikian pula, Nabi Muhammad senantiasa mendapatkan wasiat dari malaikat Jibril tentang perihal tetangga. Sebagaimana sabda beliau : مَازَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ "Senantiasa Jibril memberikan wasiat kapadaku perihal tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga juga berhak mendapatkan harta waris." (H.R. Al Bukhari no. 6014-6015 dan Muslim no. 2624-2615, dari sahabat Aisyah dan Ibnu Umar ) Keutamaan Memuliakan Tetangga Dan Ancaman Mengganggu Tetangga Kita ketahui bersama bahwa peduli dengan tetangga merupakan perkara yang urgen di dalam Islam. Sehingga Islam juga memberikan kedudukan mulia bagi orang yang memuliakan tetangganya dan sebaliknya, Islam memberikan ancaman keras terhadap siapa saja yang tidak mau peduli dengannya. Berikut ini akan disebutkan beberapa keutamaan memuliakan tetangga beserta ancaman yang melalaikannya. Diantaranya sebagai berikut: a. Wasilah meraih iman yang sempurna. مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah ia menggangu tetangganya." (H.R. Al Bukhari no. 6136 dan Muslim no. 48, dari sahabat Abu Hurairah ) Bisa disimpulkan dari hadits di atas, bahwa perbuatan buruk terhadap tetangga dapat mengurangi nilai iman dia kepada Allah dan hari kiamat. Bila ia menyakini perbuatan mengganggu tetangga adalah halal (boleh), maka bisa menyebabkan batalnya nilai iman dia secara total (kufur). b. Menjadi sebaik-baik tetangga di sisi Allah خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبهِ، وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ "Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya." (H.R. At Tirmidzi, dari sahabat Ibu Umar, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Al Adabul Mufrad no. 115 ) Dapat disimpulkan pula dari hadits diatas, barang siapa yang tidak memuliakan (peduli) tetangganya maka ia akan menjadi calon tetangga yang paling buruk di sisi Allah . c. Wasilah untuk meraih Al Jannah. Rasulullah bersabda: لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَيَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ "Tidak akan masuk Al Jannah, barang siapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. (H.R. Muslim), juga dalam riwayat Al Bukhari, Rasulullah bersumpah: "Tidaklah beriman kepada Allah" (sebanyak tiga kali)." Salah seorang sahabatnya bertanya: "Siapa itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: "Barangsiapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya." Sungguh ada seorang wanita di jaman Rasulullah yang rajin shalat malam dan shaum di siang harinya, namun tetangganya tidak merasa aman dari kejelekan lisannya. Kabar itupun terdengar oleh Rasulullah , maka beliau bersabda: "Tidak ada kebaikan bagi dirinya. Dan ia kelak masuk dalam An Naar (neraka)." (Al Adabul Mufrad no. 119, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani) Apa yang harus kita perbuat? Islam sangat peduli dengan keberadaan tetangga. Sehingga seharusnya seorang muslim harus peka dan tanggap dengan kondisi tetangganya. Bila tetangganya membutuhkan atau memerlukan sesuatu, seharusnya ia tanggap untuk bermurah tangan kepadanya sesuai kemampuannya tanpa diminta. Pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang perlu dan butuh darinya. Konsekuensi dari berbuat baik kepada tetangga adalah tidak berbuat atau bertindak semena-mena yang menyebabkan tetangga itu merasa terganggu atau teraniya. Sehingga membutuhkan kejelian dan kehati-hatian dari masing-masing pihak untuk tidak berkata dan berbuat kecuali setelah dipertimbangkan dengan matang antara maslahat dan mudharatnya. Ada beberapa contoh hubungan bertetangga yang telah dipraktekkan di masa Rasulullah , dan para sahabatnya, sebagaimana hadits-hadits berikut ini: 1. Aisyah bertanya kepada Rasulullah : "Yaa Rasulullah! Sesungguhnya aku memilki dua tetangga. Mana yang paling berhak untuk aku berikan hadiah?" Rasulullah menjawab: "Pintu yang paling dekat denganmu." (Al Adabul Mufrad no. 107, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani) 2. Rasulullah juga bersabda: لَيْسَ المُؤْمِنُ الَّذِي يُشْبِعُ وَجَائِرُهُ جَائِعٌ "Tidaklah beriman seseorang, bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan." (Al Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani) Mungkin masih ada berbagai hadits-hadits lainnya, sehingga Islam telah memberikan pengajaran tentang sikap yang harus dimiliki oleh setiap umat Muhammad untuk selalu tanggap dan peduli dengan tetangganya, walaupun ia seorang kafir. Nah, begitu mulianya suri tauladan yang diajarkan Kanjeng Nabi.. Mari kita mulai belajar berempati dan berbuat ihsan, minimal beberapa rumah dari arah kanan-kiri sepan belakang kita..(Sanggupkah kita sampai dengan 40 rumah kana-kiri?) Tanyakan pada diri kita sudahkah kita bisa sedemikian rupa, minimal sudah kenal namakah kita pada kiri kanan tetangga kita yang baru atau yang lama.. dan sudah berinteraksi dengan baikkah kita pada mereka tanpa mengganggunya dengan sadar maupun tanpa sadar? Kalaupun ada, mari kita mulai membenahi diri dan minta maaf terhadap mereka tanpa harus membalas perbuatan keburukan mereka itu dengan hal yg sama yang pernah mereka perbuat pada kita. Ingatlah akan HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani, “ salah satu kelompok manusia yang dicintai Alloh…. “Disebutkan adalah Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia bersabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya”. Semoga lingkungan kita saling berbuat ihsan antar tetangga baik yang dekat maupun yang jauh.. Insya Allah Amin. Subbhanallah wabihamdika, Ashadualla illa hailla anta, Astaghfirullah waatubu illaih..Wassalamualaikum Wr. Wb. ===== Daftar Pustaka: [TETANGGA DI DALAM AL-QUR'AN AL-KARIM] Oleh: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi, [Etika Bertetangga], karya Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, alih bahasa Arif Mufi MF,[Kitab (Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan) “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari”] oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz
Selasa, 08 Desember 2009
Minggu, 29 November 2009
ISLAM RASIONAL 'ALA UMAR
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, di antara sahabatnya yang paling penyayang adalah Abu Bakar, temannya yang paling pemalu adalah Utsman dan rekannya yang paling keras agamanya adalah Umar. Umar Ibnul Khattab masuk islam pada tahun keenam kenabian. Keimanan orang yang digelari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai al Faruq (pemisah antara kebenaran dan kebatilan) ini sangat tulus, tetapi tidak membuta. Tak berlebihan jika sejarah telah mencatat beberapa sikap Umar “mempertanyakan langkah yang diayunkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam” ketika dirasa mengganggu logika pikiran dan substansi kearifannya. Dalam perjanjian Hudaibiyah (Muslimin vs kafir Quraisy) misalnya, Umar mempertanyakannya, karena secara logika merugikan kaum muslim. Setelah diyakinkan bahwa langkah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai refleksi dari “samawi” (dibimbing wahyu), Umar lantas mengimani. Kala lain, Umar sempat mempertanyakan sikap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyolati Abdullah bin Ubay, seorang munafik, mengaku islam, tetapi nyata-nyatanya merugikan islam. Kala itu Nabi tetap menyolati karena berpijak pada argumentasi kearifan budi bahwa Abdullah bin Ubay semasa hidup secara formal mengaku islam. Tak lama setelah itu, akhirnya turun wahyu yang ternyata membenarkan pendapat Umar. Sejak saat itu dan detik itu, Nabi Muhammad Shallallhu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyolati kaum munafik yang masuk islam dengan kepura-puraan, terlihat dari tinggkah lakunya yang memusuhi islam. Dari situ terlihat bahwa sikap keras Umar dalam beragama, terkadang mampu “mengintip” hal-hal gaib dan ada kalanya hampir mendahului wahyu. Tak berlebihan jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut kecerdasan Umar dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya.” Subhanallah. Namun, perlu dicatat bahwa keimanan Umar tetap tulus dan murni, sehingga ketika telah mendapat penjelasan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang suatu perkara, ia pasti akan mengimaninya secara kukuh, dan tiada satupun dapat mengubahnya. Kadang kala ia menyanggah hal-hal yang perlu disanggah, dan menerima bulat-bulat parkara-perkara yang ada kalanya tidak dipahami hikmahnya. Itulah Umar Ibnul Khattab, orang yang oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam disebut sebagai “yang paling keras agamanya” Suatu hari, ketika Umar telah menjadi khalifah kedua, menggantikan Abu Bakar Asshidiq, ia memimpin rombongan haji. Ketika ia mau mencium Hajar Aswad ia berkata, seolah bicara kepada batu hitam itu: “Sesungguhnya engkau adalah batu, yang tak bisa memberikan manfaat atau merugikan. Demi Allah, jika sekiranya aku tak melihat Rasulullah menciummu, maka aku pun tidak akan sudi menciummu.” HIKMAH Dari catatan historis tadi kita telah melihat ungkapan seorang islam yang keras agamanya, yang berusaha mati-matian menjaga tauhidnya kepada Allah, berusaha optimal agar tak dicemari syirik kepada apa pun termasuk kepada Hajar Aswad atau “perlambang” keislaman lainnya. Itulah keimanan Umar yang rasional. Dari situ terdapat pelajaran yang dapat dipetik hikmahnya: Prinsip tauhid kepada Allah, dalam pengertian uluhiyah (satu-satunya sembahan), rububiyah (satu-satunya dzat Pengatur dan pemelihara), mulkiyah (satu-satunya Penguasa dari seluruh penguasa) hendaknya dijaga kemurniannya secara sadar dan kritis. Janganlah kita terjebak pada pensakralan sebuah perlambang dalam islam (seperti Ka’bah, Hajar Aswad, Kitab Al-Qur’an dalam wujud buku, atau pun hal-hal lainnya) seolah-olah semua formalisme, symbol, perlambang itu seolah-olah menjadi Tuhan itu sendiri, sebagai refleksi dari eksistensi Rabb. Sikap seperti itu justru dapat menjerumuskan kepada kesyirikan Sehubungan dengan hal ini, pertanyaan mendasar akhirnya muncul, kenapa para jamaah haji selama ini terkadang sikut kanan kiri “hanya” untuk dapat mewujudkan ambisi, mencium Hajar Aswad? Kenapa jamaah haji dewasa ini terkadang, tampak menangis terharu biru, menggelayut pada kiswah Ka’bah, meratap seolah Ka’bah menjadi objek dan tujuan utama, bukan pada keridhaan Rabb-nya? Bahkan lebih tragis, kenapa banyak masyarakat muslim yang datang ke makam keramat, senjata keramat, atau apa pun yang keramat, memohon keberkahan dan rahmat, yang dibanding Hajar Aswad tentu lebih rendah derajatnya? Itulah berbagai pertanyaan yang mesti direnungkan. Wallahu a’lam, Semoga bermanfaat. ^^BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI^^ Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sumber: Kisah dan Hikmah, Dhurorudin Mashad (inbox facebook);
Selasa, 29 September 2009
SURAT DARI PALESTINA(Gaza)!!
Untuk saudaraku di Indonesia Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia,,??? namun , jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa…? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim Terbanyak di punggung bumi ini,,,,bukan demikian saudaraku??? disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah Saya sempat berkenalan dengan salah seorang “aktivis da’wah” dari Jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku,”setiap tahun musim haji, ada sekitar 205 ribu jama’ah haji ber asal dari Indonesia datang ke Baitullah ini…!!!”. Wah,,,,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis & membuat saya berdecak kagum, Lalu saya mengatakan kepadanya, “sauadaraku,,,,jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang di gabung,,itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja”. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah… Wah….wah…pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5 % dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya,,,Subhanallah. Wahai saudaraku di Indonesia Pernah saya berkhayal dalam hati,,kenapa saya & kami yang ada di GAZA ini Tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah….pasti sangat indah dan mengagumkan yah. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui Tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko & para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan. Ini…yang membuatku iri kepadamu saudaraku Tidak seperti di negeri kami ini….saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil,,,,yah diatas mobil saudaraku!! Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu, Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum. Namun,,,mengapa di negeri kalian , katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah & ibunya , terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah,,,,itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding,,,,, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA,,,,Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian..??? Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut….!!!, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini. Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan ,,,,atau got-got apalagi ditempat sampah…saudaraku!!!, Mereka mati syahid,,,saudaraku… mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!! Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya ,di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel, Saudaraku,,,,bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi Mereka adala mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini Perlu kalian ketahui,,,sejak serangan Israel tanggal 27 desember kemarin Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami Namun,,,,sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar,,,Allahu Akbar!!! Wahai saudaraku di Indonesia Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi ,menderita busung lapar,,,, Apa karena kalian sulit mencari rezki disana..? apa negeri kalian sedang di blokade juga..? Perlu kalian ketahui,,,saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan,,,walau sudah lama kami di blokade. Kalian terlalu manja…!? Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami. Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda Baru saja melangsungkan pernikahan,,,yah,,,mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel, Mereka mengucapkan akad nikah,,,,diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku. Dan Perdana menteri kami, yaitu ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan Bagi semua keluarga baru tersebut . Wahai Saudaraku di Indonesia Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan “pengajian” atau halaqoh pembinaan Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut,,,, Program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan Buku-buku pasti kalian telah lahap,,,kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karna kalian punya waktu Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku… Satu jam,,,yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapanagn jihad, sesuai dengan tugas yang Telah diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut Walau Cuma satu jam saudaraku,,,, Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, Seperti ta’aruf, tafahum dan takaful di sana. Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami,,, Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai “nyanyian perang” kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang ,,, bagaimana Dengan kalian…? Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al qur’an, umurnya baru 10 tahun , Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang. Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tyanahnya sudah Diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma,,,, yah ditempat itulah mereka belajar Saudaraku…., bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel… Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal,,,karena memang didepan mereka “tafsirnya” langsung Mereka rasakan. Wahai Saudaraku di Indonesia Oh…iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah,,,,,kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini , termasuk kalian di Indonesia Namun,,,bukan tangisan kalian yang kami butuhkan saudaraku Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai Bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya. Kami lah yang berterima kasih,,partai kami yaitu Hamas sejak berjuang melalui demokrasi Sejak tahun 2006, terinspirasi oleh kemenangan partai da’wah kalian di Indonesia, yah,,, temanku Itu adalah aktivis salah satu partai Islam ( yang paling banyak di minat di hasil pemilu tahun 2009 ), kalian lah yang mengajarkan kepada kami, karena kalian yang lebih dahulu Berjuang lewat pintu ini, kami baca semua tentang kalian. SUngguh kalianlah yang mengajarkan bagaimana mengelola partai yang baik, dekat dengan masyarakat, melayani mereka, mulai baksos sampai dengan DS, murni kami jiplak dari kalian semua. Dan hasilnya saudaraku…. Kami menang dengan angkan 67 % suara..Allahu Akbar!!! Tahun 2010 kami juga akan pemilu disini,,,kami tetap mengurus partai seperti yang kami belajar dari kalian, tetap membina para kader kami, dengan dengan masyarakat dan satu lagi kami juga tetap mengangkat senjata untuk mengusir tentara Israel dari bumi palestina. Saya dengar bulan April ini kalian akan pemilu, dan katanya targetnya 20 % saja Sebenarnya sebagai seorang “murid” kami malu, kenapa? Karena angka tersebut terlalu kecil untuk seorang “guru” seperti kalian. Kalian tidak sedang mengangkat senjata , seperti kami disini, kader kalian banyak,,,,, Apalagi yang kurang dari kalian. Saya Cuma bisa berdoa semoga kalian bisa memenangkan pemilu nanti,,,, Oh,,,iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia. Akhhuka…..Abdullah ( Gaza City ..1430 H )
Sabtu, 01 Agustus 2009
Akidah Ahlu Sunnah Menyikapi Sahabat dan Ahlu Bait
Mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan kewajiban kaum muslimin, termasuk menjaga kesucian hati dan lisannya terhadap para sahabat. Hal itu disebabkan karena sahabat merupakan manusia yang paling sempurna keimanan, kebaikannya, ketaatan, dan jihadnya. Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk menjadi sahabat nabi-Nya. Para sahabat mendapatkan suatu keistimewaan yang tidak dapat diperoleh oleh siapapun setelah generasi mereka, yaitu keistimewaan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bergaul dengannya. Seluruh sahabat merupakan manusia yang jujur dan adil berdasar kesaksian Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100) Mencintai para sahabat merupakan bagian dari agama dan iman, sedangkan membencinya merupakan kekufuran dan kemunafikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh umatnya agar mencintai sahabat-sahabatnya, “Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai para sahabatku. Janganlah kamu jadikan mereka sebagai sasaran lemparan (cercaan) setelahku. Barangsiapa yang mencintai mereka, berarti dia pun mencintaiku atas kecintaannya kepada mereka. Barangsiapa membenci mereka, berarti dia pun membenciku atas kebenciannya terhadap mereka. Barangsiapa yang menyakiti mereka, berarti dia telah menyakitiku. Barangsiapa menyakitiku, berarti dia telah menyakiti Allah. Barangsiapa yang menyakiti Allah, maka sesungguhnya dekat siksa-Nya.” (HR. At-Tirmidzi) Setiap orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beriman kepadanya, serta wafat dalam keadaan beriman, maka ia termasuk dalam sahabat walaupun pertemuannya hanya setahun, sebulan, sehari, ataupun hanya sesaat. Ahlu sunnah tidaklah mencaci salah satu diantara mereka, bahkan Ahlu sunnah menyebutnya dengan ungkapan yang layak bagi mereka berupa pujian yang baik, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku! Janganlah kalian mencaci para sahabatku! Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antaramu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, sungguh tidak akan mencapai satu mud pun (dari yang mereka (para sahabat) infakkan), tidak sampai pula setengahnya.” (HR. Muslim) Ahlu sunnah berpandangan bahwa para sahabat adalah ma’sum (terjaga) dari kesalahan secara kolektif, namun secara individual tidaklah ma’sum. Menurut Ahlu sunnah, ke-ma’sum-an datangnya dari Allah bagi orang-orang yang telah dipilih dari kalangan Rasul-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya. Allah Ta’ala menjaga seluruh umat ini secara kolektif dari kesalahan, bukan secara individual. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku ini di atas kesesatan. Tangan Allah di atas jama’ah.” (HR. At-Tirmidzi) Ahlu sunnah wal jama’ah mencintai Ahlu Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya aku mengingatkan kalian kepada Allah atas Ahlu Baitku (keluargaku), sesungguhnya aku mengingatkan kalian kepada Allah atas Ahlu Baitku.” (HR. Muslim) Di antara Ahlu Bait beliau adalah istri-istri beliau yang dinamakan pula “ummahatul mukminin”. Ahlu sunnah berkeyakinan bahwa mereka adalah istri-istri yang suci lagi bebas dari segala kejahatan. Mereka pula merupakan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baik di dunia maupun di akhirat. Sumber: Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari. 2007. Intisari Aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah terjemah: Farid bin Muhammad Bathathy. …: Pustaka Imam Syafi’i.belajarislam.com
Sabtu, 11 Juli 2009
kisah pertobatan umar bin khattab
‘Umar ibn’l-Khattab adalah pemuda yang gagah perkasa, berusia antara tigapuluh dan tigapuluh lima tahun. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin. Tatkala itu Muhammad sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi Talib sepupunya, Abu Bakr b. Abi Quhafa dan Muslimin yang lain. Pertemuan mereka ini diketahui ‘Umar. Iapun pergi ketempat mereka, ia mau membunuh Muhammad. Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim b. Abdullah. Setelah mengetahui maksudnya, Nuiaim berkata: “Umar, engkau menipu diri sendiri. Kaukira keluarga ‘Abd Manaf. akan membiarkan kau merajalela begini sesudah engkau membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja ke rumah dan perbaiki keluargamu sendiri?!” Pada waktu itu Fatimah, saudaranya, beserta Sa’id b. Zaid suami Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal ini dari Nu’aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui mereka. Di tempat itu ia mendengar ada orang membaca Qur’an. Setelah mereka merasa ada orang yang sedang mendekati, orang yang membaca itu sembunyi dan Fatimah menyembunyikan kitabnya. “Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?!” tanya Umar. Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara lantang: “Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad dan menganut agamanya!” katanya sambil menghantam Sa’id keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami isteri itu jadi panas hati. “Ya, kami sudah Islam! Sekarang lakukan apa saja,” kata meteka. Tetapi Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka saudaranya itu. Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya. Dimintanya kepada saudaranya supaya kitab yang mereka baca itu diberikan kepadanya. Setelah dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah. Menggetar rasanya ia setelah membaca isi kitab itu. Ia langsung menuju ke tempat Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu sedang berkumpul di Shafa. Ia minta ijin akan masuk, lalu menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum Muslimin telah mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat. Ia masuk Islam tidak sembunyi-sembunyi, malah terang-terangan diumumkan di depan orang banyak dan untuk itu ia bersedia melawan mereka. Islamnya Umar ra ini telah memperkuat kedudukan kaum Muslimin. sumber : http://www.kisah.web.id
sang usman sahabat Nabi yang dermawan
KETIKA kaum muslimin hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka menghadapi masalah bekalan air. Di sana memang ada sebuah perigi, tapi perigi itu milik seorang Yahudi dan airnya sengaja diperdagangkan. Hijrahnya kaum muslimin ke Madinah amat menggembirakan kerana memberinya kesempatan untuk memperoleh wang yang banyak daripada hasil penjualan air perigi. Rasulullah SAW amat berharap jika salah seorang sahabat mampu membeli perigi itu untuk meringankan beban kaum Muhajirin yang menderita kerana harta mereka ditinggalkan di Makkah. Mengetahui kejadian itu, Uthman ra pergi ke rumah orang Yahudi itu untuk membeli perigi itu. Selepas tawar-menawar, harga perigi itu 12,000 dirham dan dengan perjanjian satu hari hak orang Yahudi itu, dan keesokan harinya untuk Uthman. Pada giliran hak Uthman, kaum Muslimin bergegas mengambil air yang cakup untuk keperluan dua hari. Dengan demikian si Yahudi berasa rugi, kerana tidak ada lagi yang membeli air pada gilirannya, Orang Yahudi itu mengeluh kepada Uthman, dan akhirnya dia menjual perigi itu kepada Uthman dengan harga 8,000 dirham. Perigi Raumah mengalirkan air yang melimpah bagi kaum Muslimin dengan percuma. Itulah kedermawanan Uthman ra. Alangkah jauhnya akhlak kaum muslimin dewasa ini dengan akhlak yang dimiliki sahabat Rasulullah SAW dahulu. Alangkah besarnya beban ditanggung orang Islam sekarang, tapi siapakah yang berkeinginan dan dapat meringankan beban itu? l Pemberian Allah 10 kali ganda Pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, "Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang meramalkan datangnya bencana, maka apa harus kita lakukan? Abu Bakar ra menjawab: "Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian." Pada petang harinya di Syam ada sebuah kafilah dengan 1,000 unta mengangkut gandum, minyak dan kismis. Unta itu lalu di depan rumah Uthman, lalu mereka menurunkan muatannya. Tidak lama kemudian pedagang datang menemui Uthman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu. Lalu Uthman berkata kepada mereka: "Dengan segala senang hati. Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan? Mereka jawab: "Dua kali lipat." Uthman menjawab: "Wah sayang, Sudah ada penawaran lebih." Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Uthman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak. Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Uthman: "Wahai, Uthman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih?" Uthman menjawab: Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?" Mereka serentak menjawab: "Tidak!" Uthman berkata lagi: "Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahawa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah kerana Allah, untuk fakir miskin daripada kaum muslimin." Petang hari itu juga Uthman ra membahagi-bahagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bahagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama. l Orang yang disegani malaikat Siti Aisyah ra meriwayatkan bahawa pada suatu hari Abu Bakar minta izin bertemu Rasulullah sedang berbaring dan bajunya terangkat sehingga salah satu betisnya nampak. Selesai berbincang, Abu Bakar pun segera pulang. Kemudian datang Umar dan selepas berbincang beberapa waktu lamanya. Umar pun pulang. Kebetulan Uthman datang dan minta izin bertemu dengannya. Mendengar Uthman yang datang, Rasulullah tiba-tiba duduk dan merapikan pakaiannya, lalu menutupi betisnya yang terbuka. Selepas Uthman pulang, Aisyah bertanya: "Ya, Rasulullah engkau tidak bersiap bagi kedatangan Abu Bakar dan Umar seperti kepada Uthman." Rasulullah SAW menjawab: "Uthman seorang pemalu. Kalau dia masuk sedang aku masih berbaring, dia pasti malu untuk masuk dan akan cepat-cepat pulang sebelum menyelesaikan hajatnya. Hai Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seorang yang disegani malaikat?" (Hadis Riwayat Ahmad) Rasulullah SAW mengangkat malu ke permukaan sebagai teladan dan pelita dalam mendidik umat. Bukankah Rasulullah SAW bersifat pemalu bahkan lebih pemalu daripada seorang gadis pingitan? Bukankah beliau juga bersada: "Malu tiada menimbulkan kecuali kebaikan?" Penyair juga menyanyikan sajak malu sebagai berikut bermaksud: Seorang tetap dalam kebaikan selama bersifat pemalu) Kayu gaharu tetap berharga selama ada kulitnya). Demi anda dan ayah anda, tidak ada kebaikan dalam kehidupan. Dan tidak pula di dunia bila hilang malunya. l Mus'haf Uthmani Amal perbuatan mulia, kekal sampai hari kiamat ialah apa yang dilakukan Uthman ra. Ayat dikumpulkan dan tertulis dalam lembaran dipada masa khalifah Abu Bakar dan tersimpan di rumah Hafshah sesudah wafatnya Umar ra diambil oleh Uthman ra. Uthman membentuk sebuah jawatan kuasa diketuai Zaid bin Tsabit serta dianggotai Abdullah bin Zubir, Said bin Aash dan Abdurrahman bin Haarits bin Hisyam. Tugas jawatan kuasa ini ialah membukukan al-Quran, iaitu dengan cara menyalin dari lembaran sampai menjadi buku. Dalam melaksanakan tugas ini, Uthman ra memberi nasihat supaya mengambil pedoman kepada bacaan orang yang hafal al-Quran. Jika ada perselisihan di antara mereka dalam bacaannya maka ayat itu harus ditulis menurut lahjah (dialek) suku Quraisy kerana al-Quran diturunkan menurut dialek mereka. Selepas tugas itu selesai, Uthman mengembalikan lembaran al-Quran itu kepada Hafshah. Kemudian lembaran itu dimusnahkan dengan dipendam di tanah antara kuburan Rasulullah SAW dengan mimbar. Al-Quran yang dibukukan diberi nama "Al-Mushaf". Yang sebuah ada pada khalifah Uthman (di Madinah) dan empat buah lagi dikirim ke Makkah, Syria, Basrah dan Kufah agar di tempat itu segera disalin. Adapun Mushaf pada tangan Umar dinamakan 'Mushaf Al-Imam". Dari Mushaf yang ditulis di zaman Uthman itulah kaum muslimin di seluruh pelosok menyalin dan memperbanuak al-Quran. Allah SWT hendak menyelamatkan Al-Quran dari segala upaya perubahan. Dia memelihara kemurnian dan kelangsungannya sampai hari kiamat. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya." (AT-Hij 9). Uthman ra akan tetap selalu dikenang sebagai orang yang paling berjasa dalam bidang ini. -- "Manusia yang rugi hidupnya ialah manusia yang dikurniakan akal, tetapi tidak mahu berfikir mengenai kebesaran Allah. Dikurniakan penglihatan, tetapi tidak mahu melihat kebaikan. Dikurniakan pendengaran, tetapi tidak mahu mendengar nasihat dan dikurniakan hati tetapi tidak mahu menghayati kebesaran Allah." sumber: http://andriono.multiply.com
Rabu, 01 Juli 2009
15 sebab turunnya bala
15 sebab turunnya bala Mengapa Manusia Ditimpa Bencana? Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh At-Tarmizi daripada Ali bin Abu Talib, Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: "Apabila umatku melakukan 15 perkara berikut, maka layaklah mereka ditimpa bencana yaitu: 15 sebab turunnya bala 0 comments Mengapa Manusia Ditimpa Bencana? Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh At-Tarmizi daripada Ali bin Abu Talib, Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: "Apabila umatku melakukan 15 perkara berikut, maka layaklah mereka ditimpa bencana iaitu: 1. Apabila harta yang dirampas (daripada peperangan) diagih-agihkan kepada orang-orang yang tertentu sahaja. 2. Apabila zakat dikeluarkan kerana penebus kesalahan (terpaksa). 3. Apabila sesuatu yang diamanahkan menjadi milik sendiri. 4. Apabila suami terlalu mentaati isteri. 5. Apabila anak-anak menderhakai ibu bapa masing-masing. 6. Apabila seseorang lebih memuliakan teman daripada ibu bapa sendiri. 7. Apabila kedengaran banyak bunyi bising. 8. Apabila lebih ramai berbicara mengenai hak keduniaan di dalam masjid. 9. Apabila sesuatu kaum itu terdiri daripada orang yang dihina oleh mereka. 10. Apabila memuliakan seseorang kerana takutkan tindakan buruknya. 11. Apabila arak menjadi minuman biasa. 12. Apabila lelaki memakai sutera. 13. Apabila perempuan dijemput menghiburkan lelaki. 14. Apabila wanita memainkan alat-alat muzik. 15. Apabila orang yang terkemudian menghina orang terdahulu, maka pada saat itu tunggulah bala yang akan menimpa dalam bentuk angin merah (puting beliung) atau gerak gempa yang maha dahsyat atau tanaman yang tidak menjadi. Seandainya kita sama-sama merenungi hadis di atas, tidak dapat tidak kita akan menerima hakikat bahawa bencana yang menimpa sesuatu kaum itu adalah berpunca daripada perbuatan mereka sendiri. Oleh itu, kembali kepada yang dituntut oleh Islam, semoga kehidupan kita akan dirahmati keamanan dari dunia hingga ke akhirat.(mohon ijin menyebarkan ilmu.... sumber: g-heartmuslim.blogspot.com)





